Siang Itu, suasana di Ruang Pertemuan Desa Bunga tampak berbeda dari biasanya. Puluhan kursi yang tertata rapi segera dipenuhi oleh para kader kesehatan, tokoh masyarakat, bidan desa,Babinsa hingga jajaran perangkat pemerintah desa. Kehadiran mereka membawa satu misi penting yang sama:
Mengikuti jalannya pertemuan Rembug Stunting tingkat desa.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, memicu semangat nasionalisme dan kepedulian sosial di dalam ruangan. Dalam sambutan pembukanya, Kepala Desa menegaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah pertumbuhan fisik anak yang terhambat, melainkan ancaman nyata bagi masa depan dan kualitas daya saing generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, forum musyawarah partisipatif ini menjadi langkah krusial untuk menyatukan persepsi dan komitmen bersama.

Agenda utama pertemuan berlanjut pada sesi pemaparan data oleh Kader Pembangunan Manusia (KPM) bersama bidan desa. Layar proyektor menampilkan data balita, data tumbuh kembang anak, hingga data ibu hamil yang berisiko tinggi.

Angka-angka yang tersaji memicu diskusi interaktif yang dinamis. Para peserta dengan antusias mengidentifikasi akar permasalahan di lapangan, mulai dari akses air bersih, pola asuh, hingga pentingnya pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal.

Pertemuan diakhiri dengan penandatanganan berita acara dan komitmen bersama oleh seluruh pemangku kepentingan yang hadir. Tepuk tangan riuh menutup rembuk hari itu, menyisakan keyakinan kuat bahwa dengan gotong royong yang solid, desa ini mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *